Oleh : Sumakno
Menurut tutur tinular, dahulu kala ada seorang
pengembara dari daerah Purwodadi, orang tersebut adalah anak seorang patih
suatu kerajaan di Purwodadi yang bernama Kanjeng
Sunarto mempunyai anak yang bernama Mahesa
Jenar/ Mbah Klawu. Mahesa Jenar mengembara sampai di
wilayah Demak tepatnya singgah di Mbeketo (*nama daerah), di tempat tersebut Mahesa
Jenar membuat ladang dan membuka lahan pertanian hingga akhirnya ia mbabat
hutan belantara, hutan tersebut di babat dengan cara dibakar, kemudian jadilah
lahan yang bisa ditanami dan makin lama makin banyak orangnya dan menjadilah
sebuah desa dan dukuh-dukuh. Untuk itu, membuat Dukuh Klantangan yang sekarang
dinamakan Dukuh Klantang dan waktu itu di tempati oleh seorang sesepuh yang
bernama Mbah Gajeh sebab orangnya bertubuh gemuk.
Desa Mlekang sendiri terbagi dalam empat dukuh
diantaranya Jungkamal, Jungsemi, Mlekang, dan
Klantang. Terbakarnya lahan hutan yang merambah
hingga wilayah seberang sungai, juga mengenai
wilayah yang dihuni oleh orang-orang sesepuh dari negara China. Karena orang China itu banyak harta. Maka disebut dukuh JungKamal. Yang agak jauh dari mbah Mahesa jenar/ Mbah klawu
karena luasnya ada yang
tidak terawat dinamakan dukuh Jung
Semi karena diujung tanaman
hutannya selalu bersemi. Dan dikelola oleh seorang pendatang dari pati
pesantrenan yaitu seorang Kiyai bernama mbah Yai Amir. Seluruh
dukuh-dukuh menggabung dengan Desa Mlekang. Desa
mlekang dibelah oleh sungai yang besar maka desa menjadi Mlekang seberang lor (Mlekang utara) dan Mlekang
seberang kidul (Mlekang selatan).
Dijaman rejo
dan gemah ripah loh jinawi (dijaman kemajuan ini) maka Desa Mlekang meliputi desa
dan dukuh yaitu desa Mlekang diikuti dukuh Klantang,
dukuh Jungkamal, dukuh Jungsemi,
sampai sekarang disebut kesatuan (desa Mlekang).
Maka didesa Mlekang ada cikal bakal utama yaitu mbah
Mahesa Jenar (Mbah Klawu) dibantu oleh sesepuh (cikal
bakal) Mbah Gajeh karena orangnya gemuk. Mbah Kiyai Amir dan Mbah Ndekem
karena orang dari China pada
waktu itu diburu warga Jung kamal
lari dan akhirnya sembunyi dengan cara ndekem.
Setelah itu ada sesepuh yang suka menolong, memberi (dono weweh) sebagai penambang perahu pendatang dari Desa Tompe
bernama Sholaeman
disebut juga Ki Angeng Nambangan. Maka dari itu Ki Ageng Nambangan menjadi cikal bakal yang berhati suci di Mlekang. Sampai sekarang desa Mlekang di antara wilayah desa
sebelah utara desa Tuwang,
sebelah selatan desa Mlatiharjo,
sebelah barat desa Mojosimo,
sebelah timur desa Sambung.
Sekianlah tutur tinulur sejarah terjadinya desa Mlekang. Terimakasih atas perhatian saudara dan
semoga hal
ini dapat menjadi petunjuk
pengingat untuk kita semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar